Suratku
Untuk Tuan,
mengapa aku harus begini,
begitu tersiksa dengan hati ini,
sungguh aku tak biasa,
apa yang ku buat selalu berurai air mata,
tanpa aku tahu sebab apa,
tanya ini hanya di dada,
sesak dengan tingkah ku,
ini sungguh-sungguh menjijikan,
tak mengerti harus apa,
hanya ingin kembali biasa!
Mengapa berurai,
ini terlalu aneh,
dalam hadapnya hanya diam,
teriak bisu ku tercekat dalam hembusan napas.
(untuk delapan maret tiga belas)
Komentar
Posting Komentar