detik ini
Tuhan, hening tanpa kata iya atau kah tidak itu sungguh mengganggu. Hal ini selalu menyakitkan, diam tanpa kata. Aku, seolah batu, selalu dianggap seperti ini. Dalam tanya, tak ada balas. Terombang-ambing dalam kemungkinan, yang ini atau yang itu.
Apakah kau tahu rasanya terkungkung? mungkin aku tahu rasanya. Nyaman yang membunuh, terjerat aturan baku. Hal sederhana memang, mungkin hanya kesepian dalam ruang damai. Tapi ini benar-benar menguras hati, mengoyaknya dalam perlahan.
Aku selalu ditekankan dalam dunia normal. Jika ada dukungan untuk maju, itu hanya bualan semu. Dalam dunia kotak, terikat pasrah.
"Tak boleh marah, tak boleh sedih, jadi yang lebih baik!"
Hiburan yang menghantui dari dulu hingga kini.
Menghargai, ya, menghormati. Mendengar dengan senyum, patuh dengan manis.
Ini sungguh menguras tenaga, habisku dalam lalapan emosi. Sunyi dalam sendu.
Apakah kau tahu rasanya terkungkung? mungkin aku tahu rasanya. Nyaman yang membunuh, terjerat aturan baku. Hal sederhana memang, mungkin hanya kesepian dalam ruang damai. Tapi ini benar-benar menguras hati, mengoyaknya dalam perlahan.
Aku selalu ditekankan dalam dunia normal. Jika ada dukungan untuk maju, itu hanya bualan semu. Dalam dunia kotak, terikat pasrah.
"Tak boleh marah, tak boleh sedih, jadi yang lebih baik!"
Hiburan yang menghantui dari dulu hingga kini.
Menghargai, ya, menghormati. Mendengar dengan senyum, patuh dengan manis.
Ini sungguh menguras tenaga, habisku dalam lalapan emosi. Sunyi dalam sendu.
Komentar
Posting Komentar