Menanti
“Ka, apa ini hari sial ku?”
“Haha, tak ada hari seperti itu sayang. Itu hanya pikiran mu saja.”
“Tapi ka, hari ini aku merasa semuanya buruk.”
“Semua pasti ada sebabnya.”
“Maksud kaka?” Kaka pergi begitu saja.
“Haha, tak ada hari seperti itu sayang. Itu hanya pikiran mu saja.”
“Tapi ka, hari ini aku merasa semuanya buruk.”
“Semua pasti ada sebabnya.”
“Maksud kaka?” Kaka pergi begitu saja.
“Kaka, kaka?”
“Adik manis,
kaka pergi sebentar ya.”
“Kaka mau
kemana?”
“Kaka mau beli sesuatu. Kaka akan segera kembali.”
“Kaka mau beli sesuatu. Kaka akan segera kembali.”
Tak ku sangka, hari itu
benar-benar hari sial ku. Sampai saat ini kaka tak pernah kembali.
“Sekarang sudah malam mimi. Kenapa kaka belum pulang?”
“Guk, Guk.”
“Sekarang sudah malam mimi. Kenapa kaka belum pulang?”
“Guk, Guk.”
“Anjing
pintar, apakah kau mengerti apa yang ku katakan? Aku beruntung memiliki mu,
mimi.”
“guk guk guk guk guk.”
“Hahaha, kau lucu sekali.”
“guk guk guk guk guk.”
“Hahaha, kau lucu sekali.”
“mimi, aku
mengantuk dan kenapa kaka belum pulang? hoam”
Malam itu,
aku menunggu kaka hingga tertidur didekat mimi. Saat bangun pun kaka tak ada,
dia tidak kembali.
“Yui, antarkan
pesan ini ke meja no.5!”
“(Diam)”
“Yui? Yui, Yui?”
“(Diam)”
“Yui? Yui, Yui?”
“Ah, iya,
maafkan aku melamun.”
“Ada apa Yui? Tak biasanya kamu melamun.”
“Tak apa, aku hanya merasa lelah.”
“Ada apa Yui? Tak biasanya kamu melamun.”
“Tak apa, aku hanya merasa lelah.”
“Kalau
begitu kenapa tak ambil cuti saja, biar aku yang gantikan.”
“Tak usah, itu akan meropatkan mu, Gin. Aku sungguh tak apa.”
“oh ayolah, kamu benar-benar butuh istirahat. Hari ini, aku punya banyak waktu luang.”
“Baiklah, aku ambil cuti hari ini, tolong ya Gin. Maaf merepotkan.”
Gin itu teman kecil ku, dia begitu memahami ku dan aku beruntung memiliki Gin.
“Tak usah, itu akan meropatkan mu, Gin. Aku sungguh tak apa.”
“oh ayolah, kamu benar-benar butuh istirahat. Hari ini, aku punya banyak waktu luang.”
“Baiklah, aku ambil cuti hari ini, tolong ya Gin. Maaf merepotkan.”
Gin itu teman kecil ku, dia begitu memahami ku dan aku beruntung memiliki Gin.
Hari ini, umurku bertamah
menjadi 20 tahun dan 12 tahun sudah kaka meninggal kan aku.
“Aku pulang.”
“guk guk guk”
“haha kau menunggu ku mimi?”
“guk guk guk guk”
“guk guk guk”
“haha kau menunggu ku mimi?”
“guk guk guk guk”
“ini untuk
mu, mimi. Hari ini kau makan enak ya.”
“gukgukguk”
“Apa yang kau lakukan mimi? Kenapa kau menarik ku? Ini kamar kaka, kita tidak boleh masuk kamar ini!”
“Selamat ulang tahun Yui, adik kecil ku.”
“Kaka? Apa ini benar kau ka?”
“gukgukguk”
“Apa yang kau lakukan mimi? Kenapa kau menarik ku? Ini kamar kaka, kita tidak boleh masuk kamar ini!”
“Selamat ulang tahun Yui, adik kecil ku.”
“Kaka? Apa ini benar kau ka?”
“ya ini
kaka. Kau sudah tumbuh besar sekarang.”
“Kaka kemana saja selama ini? Hiks hiks, aku menunggu mu.”
“Maafkan aku, Yui. Banyak hal yang harus ku jelaskan.”
“Kaka kemana saja selama ini? Hiks hiks, aku menunggu mu.”
“Maafkan aku, Yui. Banyak hal yang harus ku jelaskan.”
“Apakah kaka
akan pergi lagi?”
“Tak akan, kaka akan selalu disisi mu. Maafkan kaka, sudah meninggalkan mu sendiri.”
“Tak akan, kaka akan selalu disisi mu. Maafkan kaka, sudah meninggalkan mu sendiri.”
“gukgukguk”
“bersama mimi tentunya, hahaha”
“bersama mimi tentunya, hahaha”
Kaka kembali, harapan ku
terkabulkan. Kaka kembali dengan banyak kejutan. Kaka mengajak ku dan mimi
pindah kerumah yang besar. Sekarang kaka punya perusahaan yang cukup besar. Aku
tenang ada didekat kaka. Dan Gin, akhirnya menyatakan perasaannya. Kini aku,
Gin, dan kaka serta ka Aoi, kaka memiliki pacar ternyata, tentu bersama mimi
hidup dengan keberuntungan. Hari-hari sial telah berakhir.
Komentar
Posting Komentar