Tips cermat memilih jurusan kuliah


1. Sesuaikan Keinginan dan minat.

Tetapkan keinginan mu terhadap jurusan tertentu, tapi harus sesuaikan dengan minat kemampuan. Ex. sewaktu SMU tidak terlalu menyukai pelajaran kimia, maka jangan sekali-sekali memilih jurusan Teknik Kimia, Ilmu Kimia atau Kedokterran Umum. Karena selama kurang lebih 4 tahun, akan bergelut dengan rumus-rumus kimia karbon yang rumit. Usahakan menyejajarkan antara minat dan keinginan. kalo suka akan kreatifitas dan seni, maka ada baiknya pilih jurusan Arsitektur, Desain Grafis, Desain komunikasi Visual atau Desain Interior, teknik sipil juga bisa hehe.. di sana skill kamu akan lebih digali dan terarahkan.

2. Realistis.

Berpikir realistis. Jangan terlalu idealis. Tanpa bermaksud mendeskreditkan jurusan-jurusan tertentu, ketika kamu sangat menyukai seni berpuisi atau tertarik dengan kajian-kajian islam, engga perlu serta merta kemudian memilih jurusan sastra Indonesia atau sastra arab. Namun bisa juga menjalankan ketertarikan itu di luar banku kuliah, misalnya mengikuti komunitas bahasa atau kajian-kajian islam di universitas. Mengapa? Karena lapangan pekerjaan sejenis jurusan-jurusan tersebut, sangat sulit diperoleh. Bukankah tujuan kuliah adalah untuk memperoleh pekerjaan?

3. Kenali Pesaing.

Mengenali pesaing dapat dilakukan melalui try-out yang sering diadadakan oleh beberapa lembaga belajar. Setelah itu ukur tingkat persaingan dengan perbandingan minat terhadap fakultas di perguruan tinggi terkait, yang bisa diperoleh dari guru sekolah atau guru bimbingan belajar. Misalnya, Arsitektur UGM daya tampung 40 orang dengan peminat 1600 orang , berarti harus menganyingkirkan 40 orang pesaing untuk bisa diterima disana.

4. Pahami Jejaring Perguruan Tinggi Tujuan (Campuss Networking).

Carilah informasi lebih tentang kampus tujuan yang kamu mau, apakah ia memiliki link khusus dengan suatu perusahaan tertentu? ikatan dinas? apakan lulusannya punya jaringan kuat di perusahaan-perusahaan besar? Misalnya Freeport banyak merekrut mahasiswa lulusan geologi dari Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta, PT. Astra International kebanyakan merekrut mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), atau Perusahahan Swasta Asing yang cenderung merekrut mahasiswa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), dsb.

5. Tren.

Tren yang dimaksud di sini bukan tren lapangan kerja saat ini, tepi tren lapangan kerja 5 sampai 10 tahun kedepan. Kemampuan membaca tren 5-10 tahun kedepan setidaknya perlu minta pertimbangan orang tua atau guru . Tren yang akan booming atau naik daun setelah lulus kuliah nanti, sehingga diharapkan mudah mencari pekerjaan. Misalnya, ketika tahun 1995/1996, dimana bisnis property tengah booming, banyak siswa SMU memilih jurusan-jurusan sektor riil seperti teknik arsitektur/teknik sipil. Namun apa yang terjadi 5 tahun kemudian? Krisis moneter yang dimulai pada tahun 1998 memporakporandakan sektor riil yang berdampak pada banyaknya perusahaan property yang gulung tikar. Dimana imbas yang dirasakan ketika itu adalah banyaknya mahasiswa lulusan Teknik Arsitektur/Teknik Sipil yang sulit mencari pekerjaan. Walaupun, saat ini kondisi sudah kembali normal. Jurusan yang tidak mengenal ‘tren sesaat’ namun sekaligus juga ketat persaingannya ketika  mencari pekerjaan adalah jurusan-jurusan ‘netral’ seperti ekonomi, hukum, fisip, informatika dan geologi.

6. Swasta atau Negeri

Universitas mau swasta atau negeri pun nga masalah. ketika memiliki skill dan yakin sama kemampuan kita, asalkan mampu melakukan yang tebaik  sesuai dengan jurusannya. Peluang kerja akan terus terbuka engga sedikit yang kuliah di swasta pun berhasil.


referensi : http://www.kaskus.co.id (sedikit tambahan)

Komentar

Postingan Populer