Tahajud Cinta Di Kota New York
Engga
sia-sia deh minta dibeliin novel “Tahajud Cinta Di Kota New York” sama si dia
hehe. Sekali lagi
bersyukur banget dibeliin, makasih buat dia disana.
Tertarik
banget sama kalimat, “Melepaskan
predikat fashionista dan memilih tampil Islami.” Dan penasaran
banget gimana Dara bisa bertahan dengan tampilan barunya di kota yang terkenal
dengan kebebasannya itu.
Meski
bagian pertama bikin curiga, memilih buat tampil tertutup dalam jangka waktu
beberapa bulan. Dan engga terlalu diceritain tentang tahap-tahap “Dara” kenapa
memilih langsung untuk serba tertutup. Ya alhasil semua temen “Dara” kaget, ada
yang menentang, ada yang engga percaya kalo “Dara” tampil tertutup, ada yang
mendukung juga, ada yang cuek juga, wah macem-macem deh reaksi mereka. Tapi “Dara”
sangat suka sama penampilan barunya, engga peduli warga New York mau mandang
gimana. “Dara” tampil dengan apa adanya, jadi diri sendiri meski dengan
batasan-batasan yang telah ditentukan untuk seorang muslimah.
Memang mulanya “Dara” tertarik ikut
pengajian gara-gara “Rick”, seorang mualaf yang sedang menjalani kuliah pasca
sarjananya. Dimata “Dara”, “Rick” sangat sempurna. Tapi pada suatu malam, “Dara”
telah diselamatkan oleh seorang lelaki misterius yang ternyata adalah “Brad”.
Mulai dari malam itu, banyak sekali kebetulan yang mempertemukan mereka berdua.
Hingga “Dara” merasa bahwa ini takdir, tanpa sadar “Brad” juga merasa hal yang
sama.
Aku
suka sekali saat “Dara” menahan diri untuk berjauhan dengan “Brad” karena
batasan yang telah ditetapkan, dan “Brad” pun menghargai bahkan sangat
menghargai dan melindungi “Dara”. Mereka berjalan beriringan dengan batasan
yang harus dipatuhi sebagai kaum muslim, tanpa mengurangi rasa kasih, sayang
dan cinta mereka. Rasa itu malah terpupuk oleh indahnya menghargai dalam
batasan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Komentar
Posting Komentar