Tanya



                Harusnya aku bertahan, harusnya aku tutup telinga, harusnya aku tak perduli dan harusnya aku membentengi. Memperindah diri dengan akhlak, menghias diri dengan tingkah laku. Memperkaya kedamaian jiwa. Dengan segala usahan yang telah ku bangun dengan harapan.
                Titik awal ini yang selalu ku ingin, terlepas dari jerat-jerat. Bebas berharap, bebas bermimpi. Memenuhi hal-hal yang telah terangkai, mengambil langkah-langkah kecil yang akan menjadi besar. Menjadi jejak-jejak abadi.
                Semua berkelok, terbawa arus. Suasana riuh redam ini menenggelamkan. Membawa bisikan hati, mencari kata-kata yang berujung pada duniawi. Menemukan pengisi dalam meneguhkan. Mengikat pada akhir jalinan, timbal balik murni. Mengatas nama kan halusinasi hati yang dapat diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Halusinasi yang mengarah pada fantasi yang kian tercapai akan luntur. Melemah dalam sesal.
                Langkah awal yang semula didepan mata, kini tak nampak. Menghilang dalam kabut kebutuhan. Lenyap dalam terpaan lingkungan. Dengan munculnya sifat baru, yang harus menguasai.

               Apa kedewasaan dapat melumpuhkan masa? Tapi memupuk jati diri? Berlaga bijak? Mengerti semua hal? Berpikir rasional? dan melupakan masa lalu?

Mungkin semua itu akan meletakan diri dalam segala hal dengan teratur. Ya teratur atau diatur.
Hingga sangat teratur dan hal kecil pun terlupa, terkubur dalam jadwal keteraturan.

Komentar

Postingan Populer