Berduka tentang Mu, PAH
Aku merasa
kehilangan mu. Kehilangan tempat keluh kesah ku. Kehilangan sahabat sejatiku. Kehilangan
tempat ku bersandar. Mungkin ini terlalu berlebihan mengingat kau masih berada
disekitarku. Tuhan, aku merasa semua kian terasa berbeda. Semakin umurku
bertambah, banyak hal yang berubah menjadi masalah. Masalah seperti apa saja
aku tidak mengerti. Aku pikir semua ini akan berakhir ketika, aku mengiringi
mereka mengumumkan persatuan. Tapi ternyata ini berlanjut. Rasa benci, marah,
bahagia, bercampur menjadi satu. Terbendung dihati. Aku tak bisa lagi berkeluh
kesah tentang semua ini pada mu. Aku merasa orang asing dalam lingkaran mu. Aku
tak mau menyakiti siapa pun, hanya karena aku merasa tersisihkan. Aku ingin
semuanya berjalan biasa tanpa ada pertengkaran karena aku yang memulai untuk
menolak. Meski air mata kian bercucuran, aku akan bertahan. Akan ku pendam
semuanya. Aku selalu diajarkan oleh mu untuk berprilaku baik. Aku akan
menurutinya.
Tapi apa kah kau pernah berpikir
tentang apa yang aku rasa kan? Aku merasa kau selalu berada dipihaknya. Selalu saja
menciptakan dinding besar. Menciptakan dunia sendiri, hanya kau dan dia. Dan aku
tak bisa masuk menembus dinding itu. Hanya bisa memandangi.
Komentar
Posting Komentar