Sesuatu yang baru


                Seakan aku baru terbangun dari mimpi, betapa berbedanya lingkunganku. Mungkin jika ada yang bertanya ”apakah kamu bahagia?”, aku akan mejawab dengan bangga “ ya tentu saja, kenapa tidak.”
                Berapa banyak orang yang ada disampingku, hanya saja mungkin aku tidak menyadarinya. Aku bahagia melihat semuanya bahagia. Tapi tetap saja ada yang mengganjal dalam hati. Ada atmosfer yang kaku, yang terasa menghimpitku. Entah kenapa, aku seperti merasakan gangguan jiwa bipolar yang tengah tenar. Hari ini begitu senang, tapi esok atau lusa begitu terpuruk. Sunggu menguras tenaga. Aku selalu berpikir seorang diri, mengurung diri dalam keterpurukan yang tiba-tiba melanda. Berpikir bahwa orang lain tak akan tahu rasanya. Hanya aku seorang diri menahan tangis dalam senyum.
               Selalu bingung ‘aku harus apa?’. Menahan diri dengan sedemikian rupa agar semua bahagia? Dan aku cenderung introvert dalam urusan pribadi. Aku tidak suka mengumbar masalah yang aku hadapi di media jejaring sosial. Aku terus bertahan untuk mengatasinya sendiri, sebisa mungkin tanpa merepotkan orang lain. Dan aku benci berdebat. Debat hanya akan menjadikan aku tersudut tanpa bisa berkutik meski kadang bukan aku yang salah. Aku juga tidak pintar dalam mendeskripsikan. Aku menilai dari sudut padangku dengan  pandangan impian atau harapan. Namun kebanyakan semuanya tak sejalan dengan impianku.
               Setiap orang berhak melakukan apa yang mereka inginkan. Aku berharap dapat mendapatkan hak ku, kadang aku merasa tidak punya hak untuk bergerak bebas. Ayahku selalu ceramah tentang resiko dalam salah memilih dan dia  termasuk dalam kategori ayah yang protektif terhadap anaknya. Begitu rewel jika aku salah dalam melakukan sesuatu. Vioola, jadilah aku yang seperti sekarang yang selalu memikirkan resiko dalam bersikap, yang selalu sensitif jika melakukan hal yang tak biasa. Selalu terkurung dalam pikiran ‘apa jadinya jika?’ atau ‘ah terjadi begini jika...’ atau ‘apa harus aku melakukan ini?’ dan masih banyak atau yang berkecamuk didalam otak sebelum menyetujui pilihan. 
               Entah sejak kapan aku merasa hidup seperti ini, merasa seorang diri. Aku berpikir, aku bisa merasakan apa yang mamah rasa ketika melawan penyakitnya. Mamah merasa seorang diri, mungkin karena aku dan ayah sibuk dalam sekolah dan pekerjaan masing-masing sehingga mamah tidak punya tempat untuk berkeluh-kesah. Mamah dulu selalu merengek tentang kesepian. Aku menanggapinya dengan santai bahwa kami semua sayang mamah. Tapi sekarang, aku merasakannya. Jika tengah melanda kesepian yang dibutuhkan adalah sebuah bentuk perhatian bukan sekedar omongan. 
                 Intinya aku merasa bahagia meski kadang merasa terpuruk. haha..
Memang ego diri sendiri selalu menguasai, dan aku terlalu memihak pada ego ku. Menghindar dari masalah yang aku tahu bagian akhirnya akan jadi seperti apa. 

Komentar

Postingan Populer